"Konflik antara Palestina dan Israel tidak dimulai dengan serangan Hamas pada 7 Oktober, tetapi pada dasarnya sudah ada sejak pertengahan abad ke-20. Aktivitas perlawanan Palestina terjadi sebanding dengan agresi otoritas Israel terhadap penduduk Jalur Gaza dan Tepi Barat," tulis Russia Today.
Dalam lanjutan artikel tersebut disebutkan bahwa setiap tahun ratusan warga Palestina terbunuh akibat operasi militer tentara Israel, namun sejauh ini belum ada reaksi signifikan dari aktor regional dan global. Di sisi lain, tidak ada keinginan nyata untuk menyelesaikan konflik di pihak otoritas Israel, karena kabinet sayap kanan yang dipimpin Netanyahu belum siap dengan opsi kompromi.
Di pihak Palestina, Hamas menjadi semakin populer di kalangan masyarakat Gaza dan sebagian besar Tepi Barat. Mereka mampu memenuhi tuntutan kaum nasionalis, umat beragama, pemuda, dan mereka yang menderita akibat tindakan rezim Zionis.
"Untuk menghancurkan Hamas, Israel tidak dihadapkan pada konsep yang konkrit, melainkan menempatkan dirinya di depan sebuah ide. Di sisi lain, Brigade al-Qassam telah mempersiapkan skenario konfrontasi dengan Israel selama bertahun-tahun," papar Russia Today.
"Tentara Israel saat ini menghadapi masalah signifikan. Meskipun Israel secara resmi menguasai bagian utara wilayah Gaza, tapi konflik masih terus berlanjut di wilayah tersebut," tegasnya.
Masyarakat di berbagai negara di dunia telah memberikan banyak tekanan terhadap pemerintah Israel dengan melakukan aksi membela rakyat Palestina. Opini publik global jelas berpihak pada Palestina.
Russia Today memprediksi bahwa operasi militer yang berkepanjangan dapat menjadi bumerang dan pada akhirnya mengarah pada perang regional yang besar dan berdarah. Sebab, peningkatan kekerasan yang tidak terduga dapat melemahkan pengendalian dan kesabaran para aktor regional. Tidak diragukan lagi, skenario di atas adalah sebuah bencana.
Di akhir artikelnya, Russia Today menulis, "Pilihan terbaik adalah menghentikan permusuhan dan melanjutkan perundingan politik. Namun sayangnya, skenario penyelesaian damai tidak mungkin terjadi, karena gejolak politik global dan beberapa faktor lain menghalangi pihak-pihak yang terlibat untuk mencapai hasil bersama,".(PH)